Proposal
Nama : AHMAD MUSHOPA
NIM : 1162020011
Kelas : PAI V A
UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MATERI PERILAKU JUJUR MELALUI PENGGUNAAN METODE STAD DI KELAS X SMA AR-ROCHMAH LEMBANG
Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan potensi sumber daya insan dengan kegiatan pengajaran. Salah satu faktor dari dalam diri yang menentukan berhasil ataupun tidaknya dalam proses belajar mengajar ialah motivasi belajar. Dalam kaitannya dengan materi pembelajaran perilaku jujur, motivasi sangat diperlukan karena menjadi daya penggerak di dalam diri yang menjamin terjadinya kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Dalam hal ini motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual yang tentunya menunjang kegiatan pembelajaran. Seseorang yang mempunyai intelegensi yang cukup tinggi, bisa gagal karena kurang adanya motivasi dalam belajarnya (Koeswara, 1989).
Motivasi memiliki peranan penting dalam proses belajar mengajar baik guru maupun siswa. Bagi guru mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan semangat belajar sehingga siswa bisa terdorong untuk melakukan perbuatan belajar. Siswa melakukan aktivitas belajar dengan senang karena didorong motivasi. Sedangkan faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengarui belajar ialah faktor metode pembelajaran. Selain siswa, faktor terpenting yang ada dalam kegiatan pembelajaran yaitu guru. Guru sebagai pengajar yang memberikan ilmu pengetahuan sekaligus pendidik yang mengajarkan nilai-nilai, akhlak, moral ataupun sosial dan untuk menjalankan peran tersebut seorang guru dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas, yang nantinya akan diajarkan kepada siswa. Oleh karena itu, motivasi sangat berpengaruh bagi kelangsungan kegiatan belajar dan pembelajaran akhlak khususnya perilaku jujur yang dilakukan oleh siswa yang mana materi tersebut ialah salah satu kompetensi dasar yang mesti dikuasai siswa di dalam mata pelajaran PAI di kelas X (Kemenag, 2017) dan di dalam penelitian ini materi tersebut akan dibahas lebih mendalam dengan memakai metode STAD sebagai salah satu faktor luar yang mempengaruhi motivasi siswa.
Penulis mengamati, kurangnya motivasi belajar yang terjadi pada siswa pada mata pelajaran PAI khususnya materi parilaku jujur salah satunya disebabkan oleh kurang tepatnya guru dalam menggunakan metode pembelajaran, sehingga peserta didik mengalami kurangnya motivasi dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, seorang guru harus kreatif dan cerdas dalam menjalankan profesinya. Seorang guru dapat menggunakan suatu metode STAD (Student Team Achievement Divisions) dalam proses pembelajarannya. Oleh karenanya dengan ini, pembelajaran pun dapat menarik dan menyenangkan (Slavin, 2009).
Dari permasalahan yang telah dipaparkan di atas, penulis menganggap penting dan perlu untuk melaksanakan suatu penelitian lebih lanjut. Penelitian ini diharapkan mampu menjawab persoalan-peroalan yang ada, sehingga satu persatu permasalahan yang ada di dalam kelas pun bisa dipecahkan dengan sempurna.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana penggunaan metode STAD dalam meningkatkan motivasi belajar siswa untuk materi perilaku jujur dalam mata pelajaran PAI kelas X ?
2. Apakah metode STAD bisa meningkatkan motivasi belajar siswa pada materi perilaku jujur dalam mata pelajaran PAI kelas X ?
Tujuan
1. Untuk mendeskripsikan penggunaan metode STAD dalam meningkatkan motivasi belajar siswa untuk materi perilaku jujur dalam mata pelajaran PAI kelas X.
2. Untuk mendeskripsikan bahwa metode STAD bisa meningkatkan motivasi belajar siswa pada materi perilaku jujur dalam mata pelajaran PAI kelas X.
Kajian Pustaka
A. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi Belajar
Menurut Sudirman (1992:73) motivasi ialah sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif di saat-saat tertentu, khususnya bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan mendesak. Sedangkan menurut Natawijaya dan Moesa (1992:54) Motivasi merupakan suatu proses untuk menggiatkan motif atau motif-motif menjadi tindakan untuk tercapainya tujuan.
Menurut Mc. Donald (dalam Sardiman 1992:73-74) motivasi yaitu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai oleh munculnya “feeling” dan didahului oleh tanggapan terhadap adanya tujuan. Pendapat tersebut menunjukkan dalam pengertian motivasi terdapat tiga unsur penting, ialah motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu, motivasi ditandai dengan munculnya feeling, afeksi seseorang, motivasi akan dirangasang karena adanya tujuan.
Dalam kegiatan belajar motivasi bisa dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan belajar dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga tujuan bisa tercapai.
Siswa bersedia belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu ialah keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut bisa tergolong rendah atau tinggi. Sebagian ahli psikologi pendidikan menyebut kekuatan mentallah yang mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi belajar. Motivasi di anggap sebagai dorongan mental yang menggerakan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi itu ada pengarahan sikap dan perilaku belajar individu. (Koeswara, 1989:Siagian, 1989 : Schein : Biggs &Teller, 1987).
Ada tiga unsur utama dalam motivasi yaitu; (i) kebutuhan, (ii) dorongan , (iii) tujuan. Kebutuhan terjadi apabila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia harapkan.
Maslow membagi kebutuhan menjadi lima tingkat, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis
2. Kebutuhan terhadap perasaan aman
3. Kebutuhan sosial
4. Kebutuhan terhadap penghargaan diri
5. Kebutuhan terhadap aktualisasi diri
Kebutuhan fisiologis berkaitan dengan kebutuhan pokok manusia misalnya pangan, sandang, dan perumahan. Kebutuhan terhadap rasa aman berkenaan dengan keamanan yang bersifat fisik dan psikologis. Sebagai contoh, individu tidak boleh diganggu secara fisik dan biarkan untuk berkreasi. Kebutuhan sosial berkaitan dengan perwujudan yang diterima oleh orang lain, jati diri yang khas, berkesempatan maju, dan merasa di anggap maju. Sebagai contoh, individu dibebaskan untuk aktualisasi diri berkaitan dengan kebutuhan individu untuk menjadi sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya. Sebagai contoh, seorang anak desa boleh menjadi prajurit, berpangkat jenderal, dan menjadi kepala negara, karena ia mampu dan diberi peluang.
Dari aspek dorongan, menurut Hull, dorongan atau motivasi berkembang untuk kebutuhan organisme. Di samping itu juga adalah sistem yang memungkinkan organisme bisa dipelihara kelangsungan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan organisme adalah penyebab munculnya dorongan, dan dorongan akan mengaktifkan tingkah laku mengembalikan keseimbangan fisiologis organisme. Tingkah laku organisme berlaku disebabkan oleh respons dari organisme, kekuatan, dorongan organisme, dan penguatan kedua hal tersebut. Hull memang menekankan dorongan sebagai motivasi penggerak utama perilaku, namun kemudian juga tidak sepenuhnya menolak adanya pengaruh faktor-faktor eksternal. Dalam hal ini insentif (hadiah atau hukuman) dapat mempengaruhi intensitas dan kualitas tingkah laku organisme.
Dari aspek tujuan, maka tujuan ialah pemberi arah pada perilaku. Secara psikologis, tujuan itu titik akhir “sementara” pencapaian kebutuhan. Apabila tujuan tercapai, maka kebutuhan terpenuhi untuk “sementara”. Apabila kebutuhan terpenuhi, maka orang menjadi puas dan dorongan mental untuk berbuat “terhenti sementara”
2. Unsur-unsur yang mempengaruhi Motivasi Belajar
Motivasi belajar tertanam di dalam diri siswa. Dalam kerangka pendidikan formal, motivasi belajar tersebut ada dalam jaringan rekayasa pedagogis guru. Dengan tindakan pembuatan persiapan mengajar, pelaksanaan belajar-mengajar, maka guru menguatkan motivasi belajar siswa. Sebaliknya, dilihat dari segi emansipasi kemandirian siswa, motivasi belajar semakin meningkat pada tercapainya hasil belajar. Motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa. Sebagai ilustrasi, keinginan anak untuk membaca majalah misalnya, terpengaruh oleh kesiapan alat-alat indera untuk mengucap kata. Keberhasilan mengucap kata dari symbol pada huruf-huruf mendorong keinginan menyelesaikan tugas membaca. (Monks, 1989; Singgih Gunarsa, 1990).
a. Cita-cita atau aspirasi siswa
Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti keinginan belajar berjalan, makan makanan yang lezat, berebut permainan, dan lain sebagainya. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan dikemudian hari cita-cita dalam kehidupan. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan, bahasa, dan nilai-nilai kehidupan. Timbulnya cita-cita juga dibarengi oleh perkembangan kepribadian. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar instrinsik maupun ekstrinsik. Sebab tercapainya cita-cita akan memwujudkan aktualisasi diri. (Monks, 1989: 241-260; Schein, 1991: Singgih Gunarsa, 1990: 183-199).
b. Kemampuan siswa
Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c. Kondisi Siswa
Kondisi siswa yang meliputi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar, atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar. Sebaliknya, seorang siswa yang sehat, kenyang, dan gembira akan mudah menguatkan perhatian. Dengan kata lain, kondisi jasmani dan rohani siswa akan berpengaruh pada motivasi belajar.
d. Kondisi Lingkungan Siswa
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan kemasyarakatan.Sebagai anggota masyarakat maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh, ancaman rekan yang nakal, perkelahian antarsiswa, akan mengganggu kesungguhan belajar. Oleh sebab itu, kondisi lingkungan sekolah yang sehat, kerukunan hidup, ketertiban pergaulan perlu dipertinggi mutunya. Dengan lingkungan yang aman, tenteram, tertib, dan indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e. Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Lingkungan siswa yang berupa lingkungan alam, lingkungan tempat tinggal, dan pergaulan juga mengalami perubahan. Lingkungan budaya siswa yang berupa surat kabar, majalah, radio, televise, dan film semakin menjangkau siswa. Kesemua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajar. Oleh sebab itu, guru professional diharapkan mampu memanfaatkan semua itu agar tercipta kondisi dinamis yang bagus bagi pembelajaran dan untuk memotivasi belajar.
3. Upaya meningkatkan Motivasi Belajar
Perilaku belajar merupakan salah satu perilaku. Seorang anak yang membaca iklan surat kabar dengan keinginan mencari sekolah yang benar, akan memperoleh kepuasan karena ia memperoleh informasi yang benar. Perilaku membaca pada anak “pencari informasi sekolah” berbeda dengan perilaku membaca kedua anak tersebut berbeda. Demikian halnya dengan motif belajar pada siswa yang sedang membaca buku pelajaran. Membaca dengan motivasi “mencari sesuatu”. Guru di sekolah menghadapi banyak siswa dengan bermacam-macam motivasi belajar. Oleh karena itu peran guru mengingatkan motivasi belajar cukup banyak.
a. Optimalisasi penerapan prinsip belajar
Perilaku belajar di sekolah telah menjadi pola umum. Dari segi perkembangan, ada siswa yang semula hanya ikut-ikutan, suka bermain, belum mengerti faedah belajar. Dengan tugas-tugas sekolahnya, kemudian mereka mulai menyenangi belajar. Bermain-main merupakan hal yang menyenangkan bagi bagian besar siswa. Siswa akan menyadari bahwa bermain, belajar sungguh-sungguh, pemberian motivasi belajar, belajar giat, istirahat, belajar lagi, dan kemudian bekerja adalah pola perilaku kehidupan yang wajar bagi anggota masyarakat.
Dalam upaya pembelajaran, guru berhadapan dengan siswa dan bahan belajar. Untuk dapat membelajarkan, atau mengajarkan bahan pelajaran dipersyaratkan :
• Guru telah mempelajari bahan pelajaran
• Guru telah memahami bagian-bagian yang mudah, sedang, dan sukar
• Guru telah menguasai cara-cara mempelajari bahan, dan
• Guru telah memahami sifat bahan pelajaran tersebut.
b. Optimalisasi unsur dinamis belajar dam pembelajaran
Seorang siswa akan belajar dengan seutuh pribadinya. Peranan kemauan, pikiran, perhatian, fantasi, dan kemampuan yang lain tertuju pada belajar. Meskipun demikian ketertujuan tersebut tidak selamanya berjalan lancar. Ketidaksejajaran tersebut disebabkan oleh kelelahan jasmani atau mentalnya, ataupun naik turunnya energy jiwa. Pada suatu saat perasaan siswa kecewa, dan akibatnya kemauan belajar menurun. Atau walaupun perasaannya kecewa, ia dapat mengatasinya, dan kemuan dan semangat belajar diperkuat. Sebaliknya, lingkungan yang berupa teman belajar, surat kabar, radio, majalah, televise, guru, orangtua juga akan memperngaruhinya. Ada teman belajar yang putus asa, ada pula yang tegar. Unsur-unsur lingkungan tersebut ada yang mendorong, da nada pula yang menghambat kegiatan belajar. Keputusan akan belajar giat, ataupun menangguhkan belajar, ada pada diri siswa sendiri.
Guru adalah pendidik dan sekaligus pembimbing belajar. Guru lebih memahami keterbatasan waktu bagi siswa. Seringkali siswa lengah tentang menilai kesempatan belajar. Oleh karena itu, guru dapat mengupayakan optimalisasi unsur-unsur dinamis yang ada dalam diri siswa dan yang ada di lingkungan siswa. Upaya optimalisasi tersebut adalah sebagai berikut :
• Memberi kesempatan pada siswa untuk mengungkap hambatan belajar yang dialaminya
• Memelihara minat, kemauan, dan semangat belajarnya sehingga terwujud tindak belajar
• Meminta kesempatan pada orang tua siswa atau wali, agar memberi kesempatan kepada siswa untuk beraktualisasi diri dalam belajar
• Memanfaatkan unsur-unsur lingkungan yang mendorong belajar, media-media yang menggangu pemusatan perhatian belajar harus dicegah
• Menggunakan waktu secara tertib, penguat dan suasana gembira terpusat pada perilaku belajar; pada tingkat ini guru memberlakukan upaya “belajar merupakan aktualisasi diri siswa”
• Guru merangsang siswa dengan penguat memberi rasa percaya diri bahwa ia dapat mengatasi segala hambatan
c. Optimalisasi pemanfaatan pengalaman dan kemampuan siswa
Perilaku belajar siswa merupakan rangkaian tindak-tindak belajar setiap hari. Perilaku belajar setiap hari bertolak dari jadwal pelajaran sekolah. Guru adalah “penggerak” perjalanan belajar bagi siswa. Sebagai penggerak, maka guru perlu memahami dan mencatat kesukaran-kesukaran siswa. Sebagai fasilitator belajar, guru diharapkan memantau tingkat kesukaran pengalaman belajar, dan segera membantu mengatasi kesukaran belajar. “bantuan mengatasi kesukaran belajar” perlu diberikan sebelum siswa putus asa. Guru wajib menggunakan pengalaman belajar dan kemapuan siswa dalam mengelola siswa belajar. Upaya optimalisasi pemanfaatan pengalaman siswa tersebut dapat dilakukan sebagai berikut :
• Siswa ditugasi membaca bahan belajar sebelumnya; tiap membaca bahan belajar siswa mencatat hal-hal yang sukar, catatan hal-hal yang sukar tersebut selanjutnya diserahkan kepada guru
• Guru mempelajari hal-hal yang sukar bagi siswa
• Guru memecahkan hal-hal yang sukar dengan mencari cara memecahkannya
• Guru mengajarkan “cara memecahkan” dan mendidik keberanian mengatasi kesukaran
• Guru mengajak serta siswa mengalami dan mengatasi kesukaran
• Guru memberi kesempatan kepada siswa yang mampu memecahkan masalah untuk membantu rekan-rekannya yang mengalami kesukaran
• Guru memberi penguatan kepada siswa yang berhasil mengatasi kesukaran belajarnya sendiri
B. Perilaku Jujur
1. Pengertian Jujur
Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna:
(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan;
(2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan;
(3) ketegasan dan kemantapan hati; dan
(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan.
Dalam bahasa Indonesia, jujur merupakan kata dasar dari kejujuran, menurut jenis katanya, jujur merupakan kata sifat sedangkan kejujuran merupakan kata benda. Menurut KBBI, kata "jujur" berarti lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal dalam permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas;
Sedangkan "kejujuran" berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati): ia meragukan kejujuran anak muda itu.
2. Pembagian Sifat Jujur
Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (shiddiq) sebagai berikut.
a. Jujur dalam niat atau berkehendak maksudnya adalah tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain karena dorongan dari Allah Swt.
b. Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima dengan berita yang disampaikan. Setiap orang harus bisa memelihara perkataannya. Ia tidak berkata kecuali kata-kata yang jujur. Barangsiapa yang menjaga lidahnya dengan selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. Menepati janji juga termasuk jujur jenis ini
c. Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh-sungguh sehingga perbuatan akhirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya dan menjadi tabiat bagi dirinya.
3. Dalil Naqli tentang Sifat Jujur
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (Al-Ahzab 33:70)
Kejujuran merupakan pondasi utama atas tegaknya nilai-nilai kebenaran karena jujur itu identik dengan kebenaran. Allah Swt. berfirman dala al-Qur'an yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. al-Ahzāb/33:70) Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya (jujur) karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣)
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(Q.S. ashaff/61:2-3)
Pesan moral dari ayat tersebut tidak lain adalah untuk memerintahkan satunya perkataan dengan perbuatan, atau dengan kata lain berkata dan berbuat jujur. Dosa besar di sisi Allah Swt., jika mengucapkan sesuatu yang tidak disertai dengan perbuatannya. Perilaku jujur dapat menghantarkan manusia yang melakukannya menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Bahkan, sifat jujur adalah sifat yang wajib dimiliki oleh setiap nabi dan rasul Allah. Orang-orang yang selalu istiqamah atau konsisten mempertahankan kejujuran, sesungguhnya ia telah mamiliki separuh dari sifat kenabian.
Jujur merupakan sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik itu berupa harta maupun tanggung jawab. Orang yang melaksanakan amanah disebut al-Amin, yakni orang yang terpercaya, jujur, dan setia. Dinamai al-Amin karena segala sesuatu yang diamanatkan kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan, baik gangguan yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sifat jujur dan terpercaya merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga, perusahaan, perniagaan, dan hidup bermasyarakat. Sifat-sifat dan akhlaknya yang sangat terpuji merupakan salah satu faktor yang menyebabkan Nabi Muhammad saw. berhasil dalam membangun masyarakat Islam. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa kecil sampai akhir hayat beliau sehingga ia mendapat gelar al-Amin (orang yang dapat dipercaya atau jujur).
Kejujuran akan membuat seseorang mendapatkan cinta kasih dan keridhaan Allah Swt. Sedangkan kebohongan adalah kejahatan yang tiada tara, yang merupakan faktor terkuat yang dapat mendorong seseorang berbuat kemunkaran dan menjerumuskannya ke jurang api neraka.
Kejujuran sebagai sumber keberhasilan, kebahagian, serta ketenteraman, yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Bahkan, seorang muslim wajib menanamkan nilai kejujuran tersebut kepada anak-anaknya sejak dini hingga diharapkan mereka dapat menjadi generasi yang meraih sukses dalam mengarungi kehidupan
C. Metode Pembelajaran STAD
1. Pengertian Metode Pembelajaran STAD
Pembelajaran model koooperatif tipe STAD merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan siswa yang heterogen. Dimana model ini dipandang sebagai metode yang paling sederhana dan langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Metode ini paling awal ditemukan dan dikembangkan oleh para peneliti pendidikan di John Hopkins Universitas Amerika Serikat dengan menyediakan suatu bentuk belajar kooperatif. Di dalamnya siswa diberi kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi kelompok untukmemecahkan suatu permasalahan (Arindawati, 2004: 83 -84).
Tipe STAD yang dikembangka oleh Slavin ini merupakan salah satu tipe koperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajara guna mencapai prestasi yang maksimal (Isjoni, 2009: 51).
Menurut Slavin (2009:143), tipe STAD merpakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan mode pembelajaran yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Disamping itu metode ini juga sangat mudah diadaptsi telah digunakan dalam matematika, sains, ilmu pengetahuan sosial, bahasa inggris, teknik, dan banyak subyek lainnya (Sharan, 2009: 5)
Dalam model pembelajaran ini, masing-masing kelompok beranggotakan 4 –5 orang yang dibentuk dari anggota yang heterogen terdiri dari laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai suku, yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jadi, model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah salah satu model pembelajaran yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan kerjasama, kreatif, berpikir kritis dan ada kemampuan untuk membantu teman serta merupakan pembelajaran kooperatif yang sangat sederhana.
2. Komponen Utama pembelajaran Tipe STAD
a. Penyajian kelas atau presentasi kelas
Guru menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan penyajian kelas. Penyajian kelas tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan terbimbing. Guru memulai dengan menyampaikan indicator yang harus dicapai hari itu dan motivasi rasa ingin tahu siswa tentang mateeri yang akan dpelajari. Dilanjutakan dengan memberikana persepsi dengan tujuan mengingatkan siswa terhadapa materi prasyarat yang telah dipelajari, agar siwa dapat menghinungkan materi yang akan disajikan dengan pengetahuan yangtelah dimiliki
b. Kegiatan kelompok
Siswa mendiskusikan lembar kerja yang diberikan dan diharapkan saling membantu sesama anggota kelompok untuk memahami bahan pelajaran dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Tim yang terdiri dari empat atau lima siswa mewakili seluruh bagian dari kela dalam halkinerja akademis, jenis kelamin, ras etnisitas. Pada tahap ini setiap siswa di beri lembar tugas yang akan di pelajari. Dalam kerja kelompok siswa saling berbagi tugas. Guru sebagai fasilator dan motivator. Hasil kerja ini dikumpulkan.
c. Kuis (Quizzes)
Kuis adalah tes yang dikerjakan secara mandiri dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa setelah belajar kelompok. Hasil tes digunakan sebagai hasil perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan dan keberhasilan kelompok.
d. Skor kemajuan (perkembangan ) individu
Skor kemajuan individu ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada beberapa jauh skor kuis terkini yang melampui rata-rata skor siswa yang lalu.
e. Penghargaan kelompok
Penghargaan keompok adalah pemberian predikat kepada masing-masing kelompok. Predikat ini diperoleh dengan melihat skor kemajuan kelompok. Skor kemajuan kelompok diperoleh dengan mengumpulkan skor kemajuan masingmasing kelompok sehingga diperoleh skor rata-rata kelompok.
3. Langkah-langkah Proses Pembelajaran Tipe STAD
a. Tahap Pendahuluan
1) Guru memberikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan mereka pelajari, tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi agar siswa tertarik pada materi
2) Guru membentuk siswa kedalam kelompok yang sudah direncanakan
3) Mensosialiasakan kepada siswa tentang modell pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa mengenal dan memahamimya
4) Guru memberikan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari
b. Tahap Pengembangan
1) Guru mendemonstrasikan konsep atau keterampilan secara aktif dengan menggunakan alat bantu atau manipulatif lain
2) Guru membagikan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi kepada masing-masing kelompok
3) Siswa diberikan kesempatan untuk mendiskusikan LKS bersama kelompoknya
4) Guru memantau kerja dari tiap kelompok dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan
c. Tahap Penerapan
1) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS dengan waktu yang ditentukan, siswa diharapkan bekerja secara individu tetapi tidak menutup kemungkinan mereka saling bertukar pikiran dengan anggota yang lainnya
2) Setelah siswa selesai mengerjakan soal lembar jawaban, kemudian dikumpulkan untuk dinilai
4. Keuntungan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
a. Keuntungan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
1) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah
2) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu masalah
3) Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskus
4) Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu dan kebutuhan belajarnya
5) Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam diskusi
6) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai, menghormati pribadi temannya, dan menghargai pendapat orang lain
b. Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
1) Konstribusi dari siswa berprestasi rendah menjadi kurang
2) Siswa berprestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan karena peran anggota yang pandai lebih dominan
3) Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai target kurikulum
4) Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk guru sehingga pada umumnya guru tidak mau menggunakan pembelajaran kooperatif
5) Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukan pembelajaran kooperatif
6) Menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama
SKENARIO TINDAKAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( R P P )
Kurikulum 2013
Satuan Pendidikan : SMA Ar-Rochmah Lembang
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Kelas / Semester : X/ I
Materi Pokok : Akhlaq Islamiyah
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit (1x pertemuan)
A. Kompetensi Inti (KI)
KI 1 : Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Menghargai, dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli(toleransi,gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
KI 3 : Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,teknologi, seni budaya terkait penomena dan kejadian yang tampak mata).
KI 4 : Mencoba, mengolah, dan menyaji, dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori).
B. Kompetensi Dasar dan IndikatorPencapaian Kompetensi
No. Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Memahami akhlak Islamiyah dan metode peningkatan kualitasnya 1.1 Menjelaskan pengertian akhlak Islamiyah
1.2 Menjelaskan hadits Nabi tentang akhlak
1.3 Menjelaskan macam-macam akhlak Islamiyah
1.4 Menjelaskan metode peningkatan kualitas akhlak Islamiyah
1.5 Menjelaskan ciri-ciri akhlak Islamiyah
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, siswa dapat :
1. Menjelaskan pengertian akhlak Islamiyah dengan benar
2. Menjelaskan isi kandungan hadits Nabi tentang akhlak dengan jelas
3. Menjelaskan macam-macam akhlak dalam Islamiyah dengan benar
4. Menjelaskan metode peningkatan kualitas akhlak Islamiyah dengan benar
5. Menjelaskan ciri-ciri akhlak Islamiyah dengan benar
D. Materi Pembelajaran
1. Pengertian akhlak
Secara istilah, akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang daripadanya lahir perbuatan-perbuatan yang mudah, tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. Jika keadaan (hal) tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan syarak (hukum Islam), disebut akhlak yang baik..
2. Dalil Naqli tentang akhlak
Hadits Nabi Muhammad SAW
“Tidaklah a
3. Macam-Macam akhlak
a. Norma Sekuler(akhlak wad’iyyah)
b. Norma Keagamaan (akhlak Islamiyah)
4. Cara Meningkatan Kualitas Akhlak
a. Melalui perumpamaan (tamtsil)
b. Melalui keteladanan (uswatun hasanah)
c. Melalui Latihan dan Pengamalan
d. Melalui Ibrah dan Mau’idhah
5. Ciri-Ciri Akhlak Islamiyah
a. Kebaikannya bersifat mutlak (al-khairiyah al-mutlaqah)
b. Kebaikannya bersifat menyeluruh (al-salahiyyah al-ammah)
c. Tetap, langgeng dan mantap
d. Kewajiban yang harus dipatuhi (al-ilzam al-mustajab)
e. Pengawasan yang menyeluruh (ar-raqabah al-muhita)
E. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
1. Pendekatan (Scientific)
2. Model Pembelajaran Cooperative Learning
3. Metode Pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division)
F. Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran
1. Media
a. Power point
b. Video tentang beriman kepada Malaikat
c. Lembaran materi Iman kepada Malaikat
2. Alat
a. Laptop
b. LCD Projector
c. Papan tulis
3. Sumber Belajar
a. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA Kelas X / Buku Siswa. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
b. Buku Akidah Akhlak MA kelas X
c. Website terkait materi Akhlak Islamiyah.
d. Buku pengayaan.
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan Deskripsi
Pendahuluan
Apersepsi
Sebelum pembelajaran, guru memberikan sebuah kisah motivasi yang berkaitan tentang akhlak Islamiyah yang dapat memotivasi dan membuat suasana menjadi lebih cair.
Pretest
Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif yang berkaitan dengan materi Akhlak Islamiyah.
Inti
Mengamati
• Peserta didik menyimak penjelasan dari guru mengenai Akhlak Islamiyah yang ditampilkan di power point
• Peserta didik mengamati tayangan video tentang sebuah kisah yang terkait dengan Akhlak Islamiyah
Menanya
Melalui dorongan dari guru, peserta didik mengajukan pertanyaan kepada guru tentang bagaimana cara berakhlak Islamiyah setelah menyimak tayangan video tentang sebuah kisah yang berkaitan dengan akhlak Islamiyah
Eksplorasi
Guru menyajikan pemahaman kepada siswa seputar materi akhlak Islamiyah dengan menggunakan sebuah metode cerdas cermat.
Langkah-langkah:
• Guru membagi siswa ke dalam 4 kelompok.
• Guru memberikan soal/pertanyaan kepada seluruh kelompok. Setiap kelompok akan diberi 10 pertanyaan, setiap pertanyaan yang berhasil dijawab akan diberi skor 100. Jika kelompok tersebut tidak bisa menjawabnya, maka bisa dilempar kepada kelompok lain untuk dijawab.
• Guru menghitung jumlah skor dari seluruh kelompok.
• Guru memberikan hadiah (reward) kepada kelompok terbaik yang mendapatkan skor tertinggi dalam cerdas cermat ini.
Asosiasi
Guru bisa memberikan kesimpulan tentang materi yang disajikan dalam cerdas cermat ini pada untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menark lagi.
Komunikasi
Guru menanya kembali mengenai akhlak Islamiyah.
Peserta didik dibawah bimbingan guru, menyimpulkan materi pembelajaran secara demokratis.
Penutup
• Peserta didik dan guru bersama-sama melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan
• Guru menyampaikan pokok-pokok materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya dan menyampaikan tugas mandiri terstruktur terkait materi Akhlak Islamiyah
H. Penilaian
1. Jenis/teknik penilaian: Tes tertulis
2. Bentuk instrumen dan instrumen
Penugasan kepada siswa:
a. Apa yang dimaksud dengan Akhlak Islamiyah ?
b. Tuliskan hadits nabi tentang Akhlak dengan baik dan benar!
c. Sebutkan dan jelaskan macam-macam akhlak !
d. Sebutkan cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatan kualitas akhlak!
e. Sebutkan ciri-ciri akhlak Islamiyah!
3. Pedoman penskoran
Dalam penilaian saya menggunakan tes tertulis dan berisi 5 soal, jadi penskorannya setiap soal nilainya 20
Lembang, 01 November 2018
Kepala SMA Ar-Rochmah Lembang Guru Pendidikan Agama Islam,
.................................................... Ahmad Mushopa
NIP. NIP.
ALAT PENGUMPUL DATA
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini diantaranya:
1. Observasi keterlaksanaan metode STAD
LEMBAR OBSERVASI
Komponen Siswa
No Hal yang Diamati Skor
Siswa 1 2 3 4
1 Keaktifan Siswa:
a. Siswa aktif mencatat materi pelajaran
b. Siswa aktif bertanya
c. Siswa aktif mengajukan ide
2 Perhatian Siswa:
a. Diam, tenang
b. Terfokus pada materi
c. Antusias
3 Kedisiplinan:
a. Kehadiran/absensi
b. Datang tepat waktu
c. Pulang tepat waktu
4 Penugasan/Resitasi:
a. Mengerjakan semua tugas
b. Ketepatan mengumpulkan tugas sesuai waktunya
c. Mengerjakan sesuai dengan perintah
Keterangan;
4 : Sangat Baik
3 : Baik
2 : Tidak Baik
1 : Sangat Tidak Baik
2. Mengunakan rekaman, foto, dan video
3. Wawancara tentang pemahaman metode STAD
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati, Mudjiono.1994.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Dirjen Dikti.
http://tirman.wordpress.com/motivasi-dalam-pembelajaran/
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Syaiful Bahri Djamarah. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.
Arindawati, 42004. Model Pembelajaran Alternatif Kooperatif Tipe STAD. Jakarta: Rineka Cipta.
Isjoni. 2009. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.
Sharan. S. 2009. Handbook Of Cooperative Learning Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran untuk Memacu Keberhasilan Siswa di Kelas (Alih Bahasa Sigit Prawoto), Yogyakarta: Imperium.
Slavin. R., E., 2008. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktek, (Penerjemah Nurlita), Bandung: Nusa Media.
Taniredja, dkk. 2014. Model-model Pembelajaran Inovatif dan Efektif. Bandung: Alfabeta.
Komentar
Posting Komentar